Setelah perjalanan panjang dari dusun kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, kini aku berdiri di depan kelas, bukan lagi sebagai murid yang bingung mencari masa depan, tapi sebagai dosen tetap di sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta.
Setiap kali melangkah menuju ruang kelas, aku selalu mengingat wajah ayah dan ibuku yang dulu memandangku dengan harap-harap cemas ketika aku berkata ingin kuliah. Aku juga selalu teringat saat menjajakan es potong, saat tak bisa ambil rapor karena tunggakan, hingga malam-malam mengajar sambil menahan lapar karena uang di dompet hanya cukup untuk ongkos pulang.
Kini, setelah menyandang gelar doktor, banyak yang menganggap aku “orang hebat”, “orang sukses”, bahkan ada mahasiswa yang memanggilnya “role model”. Tapi aku tahu betul, gelar itu bukan untuk disombongkan, melainkan untuk memberi manfaat.
Bukan Sekadar Mengajar, Tapi Mendidik
Di kampus barunya tempat aku mengajar, aku dikenal sebagai dosen yang berbeda. aku tidak sekadar menjelaskan teori, lalu memberikan tugas dan nilai. Aku memilih membangun dialog, menyelami karakter mahasiswa, dan berusaha menanamkan nilai hidup melalui setiap materi yang aku ajarkan.
“Nilai kalian bukan hanya angka di kertas,” kataku suatu kali di tengah perkuliahan. “Nilai sejati adalah sikap kalian saat menghadapi kesulitan.”
Di awal perkuliahan semester, aku biasanya mengajak mahasiswa berdiskusi soal mimpi mereka, bukan langsung membuka buku. Aku percaya, belajar dimulai dari mengenal diri sendiri.
Metode mengajarku sederhana, tapi bermakna. Aku sering menggunakan kisah nyata, perumpamaan dari kehidupan desa, dan refleksi keagamaan untuk menjelaskan konsep bahasa Inggris atau teori pendidikan.
Saat menjelaskan tentang “critical thinking”, aku bertanya:
“Kalian pernah melihat anak kecil di desa cari kayu bakar? Mereka harus tahu mana ranting kering dan mana yang masih basah. Kalau tidak kritis memilih, nanti apinya tak nyala. Sama, kalau kalian tidak belajar berpikir kritis, hidup kalian akan sulit ‘menyala’ juga.”
Para mahasiswa tertawa, tapi juga mengangguk. Bahasa yang sederhana, namun menyentuh. Aku menjembatani dunia teori dengan kenyataan hidup. Bagiku, kampus bukan menara gading, tapi tempat menempa kehidupan.
Aku punya tiga prinsip sederhana dalam mengajar:
Dalam banyak kesempatan, aku tak pernah lupa menyisipkan pesan:
“Saya bukan orang pintar. Saya hanya anak kampung yang tidak menyerah. Kalau saya bisa sampai di sini, kalian juga bisa, dengan doa, usaha, dan keberanian untuk bermimpi.”
Mahasiswa yang mendengar sering terharu. Beberapa bahkan termenung karena merasa sedang didorong bangkit dari keterpurukan.
Mendengar Lebih Banyak, Menggurui Lebih Sedikit
Dalam keseharianku, aku dikenal mudah diajak ngobrol. Aku tak segan duduk di kantin bersama mahasiswa, bertanya kabar, bahkan sesekali berdiskusi dengan mahasiswa menyusun proposal skripsi di luar jam kuliah.
Aku percaya, dosen yang baik bukan hanya pandai bicara, tapi juga pandai mendengar. Karena banyak mahasiswa hanya butuh sedikit dorongan, sedikit dipahami, untuk menemukan semangatnya kembali.
Aku sadar, aku bukan siapa-siapa dibanding tokoh besar di dunia pendidikan. Tapi aku percaya, dunia tak butuh pelita besar saja. Dunia juga butuh lilin-lilin kecil yang menerangi sudut gelap yang tak terlihat orang lain.
“Kalau hari ini saya bisa membantu satu mahasiswa paham pelajaran dan merasa lebih percaya diri, itu sudah cukup buat saya,” kataku suatu hari kepada seorang rekan dosen.
—o0o—
“Hidup memang tak pernah berhenti memberikan kejutan. Kadang ia hadir dalam bentuk kesulitan, kadang dalam bentuk harapan yang belum sempat kita rencanakan.”