“Dari Dusun ke Dunia Akademik” adalah sebuah kisah nyata yang menyentuh hati tentang seorang anak lelaki bernama lengkap Bejo Sutrisno, yang lahir dari keluarga sederhana di sebuah dusun kecil, tepatnya di desa Kelapagading, kecamatan Wangon, kabupaten Banyumas, hidup dalam keterbatasan bersama kedua orang tua dan enam saudara kandung. Sejak kecil, Trisno sudah akrab dengan perjuangan. Ia pergi ke sekolah dengan berbekal apa adanya, dan selepas pulang sekolah, ia menjajakan es potong keliling kampung demi bisa menabung dan membantu meringankan beban orang tua untuk membeli keperluan sekolah.
Masa remajanya pun tak lebih mudah. Saat teman-temannya menghabiskan waktu liburan untuk bersenang-senang, Trisno memilih bekerja sebagai buruh bangunan untuk menabung impian. Tak jarang ia tak bisa melihat nilai rapor saat duduk di bangku SMP karena tunggakan biaya sekolah yang belum lunas. Namun, semangatnya tak pernah padam. Setelah lulus SMA, ia merantau dari kampung ke kota, bekerja dari satu tempat ke tempat lain sambil menyisihkan gaji kecilnya untuk membantu orang tua dan menyambung mimpi. Bagi Trisno bahwa hidup bukan tentang apa yang kita punya, tapi tentang bagaimana kita bertahan dan melangkah meski tanpa apa-apa.
Perjuangannya membuahkan hasil ketika ia mulai menapaki dunia pengajaran di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris setelah menyelesaikan program pelatihan guru Bahasa Inggris (English Teacher Training Program). Meski gaji tak seberapa, Trisno terus berkembang. Ia memutuskan kuliah S1 di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA Jakarta, sambil tetap bekerja dan membangun keluarga kecilnya. Di tengah keterbatasan, ia berhasil meraih gelar sarjana dan kemudian melanjutkan ke jenjang magister, hingga akhirnya menyandang gelar doktor dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan predikat sangat memuaskan.
Kisahnya tak berhenti di sana. Ia dipercaya menjadi dosen tetap, menjabat sebagai wakil ketua, bahkan kemudian menjadi ketua di sebuah sekolah tinggi bahasa asing di Jakarta. Trisno kemudian menantang dirinya lebih jauh dengan bergabung di Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta Selatan sebagai dosen tetap S2, program magister linguistik terapan, membuktikan bahwa anak desa pun bisa menembus batas jika ditempa dengan kerja keras, doa, dan keyakinan.
“Dari Dusun ke Dunia Akademik” bukan hanya kisah tentang pendidikan, tetapi juga tentang keteguhan hati, keikhlasan, dan kekuatan mimpi. Trisno mengajarkan bahwa jalan menuju kesuksesan tidak selalu lurus, tetapi siapa pun yang melangkah dengan niat baik, akan sampai pada takdir indahnya.
Dalam hidupnya, Ia memahami Safa dan Marwahnya. ia berlari dari satu masalah ke harapan lain, dari satu ujian ke titik sabar berikutnya. Dan ia percaya bahwa selama langkah itu masih ia tempuh dengan sungguh-sungguh, maka InsyaAllah, akan selalu ada ‘Zamzam’, pertolongan dari langit, yang datang padanya waktu yang paling sempurna.
Di dunia yang serba cepat ini, kita butuh lebih banyak “tongkat Musa.” Tongkat-tongkat itu mungkin bukan dari kayu, tapi dari kesabaran, ketekunan, kejujuran, dan keteguhan hati. Tongkat yang ketika diayunkan akan membuat kehidupan bergetar dan takdir berubah. Tongkat yang akan menunjukkan bahwa bukan siapa kita hari ini yang menentukan masa depan, tetapi seberapa kuat kita percaya bahwa Allah tak akan meninggalkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
This book is for anyone who’s ever dreamed big despite humble beginnings.